Selasa, 22/April/2024
~~~
Novel dengan judul I Love You, Kkoma ini ditulis oleh Lim Eun Hee, kebetulan sudah ada yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Saya lupa kapan membeli novel ini, tapi saya masih ingat dengan samar-samar kalau saat itu saya sangat senang menerima paket buku ini datang ke rumah. Saya membaca novel ini lembar demi lembar, bahkan perlu jeda lama untuk menyelesaikan novelnya.
Sebenarnya jeda itu terjadi bukan karena saya tidak suka bukunya, justru karena saat membaca saya terlalu terhanyut dalam cerita, sering membuat saya malu sendiri sehingga membuat saya kesulitan untuk melanjutkan bacaannya. Novel ini sebenarnya hanya ada dari sudut pandang 2 karakter utamanya. Melihat cara berpikir dan bagaimana mereka menanggapinya. Sehingga saya kesulitan untuk melanjutkan bacaan ini, saya malu dengan pandangan mereka.
Tapi akhir-akhir ini saya mencoba untuk menguatkan hati dan tekat untuk melanjutkan membaca novel ini, sambil membuat tulisan yang saya pikirkan setiap membaca novel ini agar tidak merasa malu atau gemas sendiri. Saya rasa dengan menulis apa yang saya pikirkan saat membaca novel akan sedikit mengurangi rasa malu saya saat membaca. Ini saya menulisnya saat membaca lanjutan dari terakhir saya baca novel ‘I Love You, Kkoma’, tulisan yang membantu saya mengurangi rasa malu saat membaca.
Tulisan ini terjadi untuk melanjutkan bacaan dari chapter yang belum saya baca. Untuk chapter awal, saya masih bisa menahan rasa malunya.
#44 Ya ampun, dua tokoh ini sebenarnya saling suka tapi gak mau ngaku. Walaupun tokoh wanita sadarnya lama, tapi kan ada tokoh pria yang bisa jujur bicara kepada tokoh wanita. Hei, apa kalian tidak mencoba memperhatikan lingkungan sekitar kalian? Mungkin saja orang-orang disekitar sadar akan perasaan kalian masing-masing. Tapi saya sadar sih, kebanyakan cerita bahwa orang yang bersangkutan selalu tidak peka dengan perasaan sendiri dan perasaan orang yang dia tuju.
#46 Apakah akan diketahui tokoh wanita tentang rahasia yang terjaga dengan baik oleh tokoh pria? Ya ampun, ternyata benar bahwa orang di sekitar mereka sadar akan perasaan dua tokoh utama kita ini, bahkan tokoh pria tahu bahwa orang sekitarnya mengetahui perasaannya terhadap tokoh wanita, hanya saja tidak tahu bagaimana dengan isi hati tokoh wanita. Sebenarnya tokoh wanita penasaran dengan isi hati tokoh pria, hanya saja saat ditanya oleh tokoh wanita dan dijawab dengan jujur akan menyelesaikan masalah mereka. Tapi akan sulit jika si penjawab tidak ingin menjawab pertanyaannya.
#49 Hei! Itulah alasan kenapa kamu harus jujur, jangan suka menyimpulkan sesuatu yang hanya kamu lihat dari jauh tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebaiknya tanyakan atau datangi mereka, dekati dan dengarkan apa yang mereka katakan, bukan malah pergi dengan kesimpulan yang salah. Sudah salah menyimpulkan tanpa bertanya, kamu malah menghindar, jika begitu kamu tidak akan mendapatkan jawaban. Merasa sakit karena kesalahpahaman adalah sebuah kebodohan, bukankah memalukan bertemu dengannya karena kesalahpahaman kita sendiri setelah tahu kebenarannya?
#52 Saat ada orang baru, itu adalah drama yang selalu terjadi untuk menyadarkan perasaan orang yang tidak peka. Memang mengesakkan, tapi itu salahmu sendiri karena tidak mau jujur dengan perasaan yang disadari.
#54 Bener sih, kita pasti suka berpikir buruk terhadap orang yang tidak sukai. Walaupun orang tersebut melakukan hal yang baik dan benar, hati kita tertutup untuk melihatnya. Kita hanya bisa berpikir buruk dan menyimpulkan sesuatu sesuka kita. Tapi seandainya kita membuka mata dan melihat sekeliling dengan berpikir dingin, mungkin bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi dan tidak akan berpikir buruk pada orang yang tidak kita sukai. Terkadang pikiran buruk itu bisa terhubung karena emosi dan pandangan kita terhadap seseorang. Tapi yang harus kita sadari adalah kita tidak boleh memaksa orang lain untuk pandangan kita, bukankah kita tidak baik jika situasinya menyerang diri kita?
#58 Rasanya sakit, saat orang terdekat dan yang paling kita percaya tidak ingin mendengar apa yang kita katakan. Mereka tidak percaya dengan apa yang kita rasakan hanya karena mereka melihat dalam satu sisi saja. Bukankah kebenaran tidak sebatas di permukaan saja? Bagaimana jika korban di anggap penjahatnya sedangkan penjahat itu berkaca seperti korban? Bahkan orang sekitar tidak mempercayai orang yang selama ini bersamanya, selalu melihat seperti apa dia, tetapi malah percaya kepada orang yang pernah jahat kepadanya. Mungkin jika itu saya, saya tidak akan memaafkan, tidak ingin bertemu apalagi bicara padanya. Tolong dengarkan saat seseorang mengungkapkan kebenaran, jangan hanya bisa menyimpulkan bayangan yang ada dipikirkan.
#63 Akhirnya kebenaran terungkap, tapi kenapa masih tidak ingin mempercayai? Merasa bersalah? Menyesal? Sadarkah karena perlakuan kalian ada hati yang terluka dan kecewa dengan sekitarnya. Mungkin saya dia akan memaafkanmu, membuat dirimu dekat kembali, tapi sadarkah kamu kalau apa yang kalian lakukan itu selalu terpatri dalam pikirannya? Dia sudah pernah merasa sakit, dan itu akan membuatnya waspada terhadap perlakuanmu kedepannya.
#65 Akhirnya mengaku juga, melegakan bukan? Jika kamu jujur sejak dulu, mungkin saja kejadian lalu tidak akan ada. Tapi keputusanmu kali ini aku setuju, jujurlah dan katakan agar kamu tidak merasa sakit untuk yang kesekian kalinya. Berbahagialah karena cintamu bersambut, kamu bukanlah bintang yang merindukan bulan. Tapi saranku padamu, buatlah ruang kecewa karena kehidupan ini tidak bisa kita atur sesuai apa yang kita inginkan.
~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar